Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Semester I/2025, Sampoerna Pertahankan Posisi Pemimpin Pasar dan Laba Bersih

Sampoerna mencatat peningkatan pangsa pasar sebesar 0,8 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 31%.

Bisnis.com, JAKARTA - PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna/BEI: HMSP) memantapkan posisinya sebagai pemimpin pasar industri hasil tembakau nasional (IHT) melalui strategi portofolio merek yang kuat sehingga mendukung kinerja dan keberlangsungan bisnis Perseroan. Berdasarkan laporan kinerja keuangan semester I-2025, Sampoerna mencatat peningkatan pangsa pasar sebesar 0,8 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 31%. Sementara volume penjualan turun 1,5% menjadi 39,3 miliar batang, akibat dampak tren downtrading perpindahan dari produk premium ke produk yang lebih murah.

Terkait dengan laba bersih Perseroan, Sampoerna mencatatkan beban pajak satu kali untuk beberapa tahun fiskal sebelumnya pada kuartal II-2025 sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akutansi Keuangan (PSAK). Tanpa mengikutsertakan pencatatan beban tersebut, laba bersih Perseroan pada Semester I-2025 relatif sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun demikian, dengan pencatatan beban pajak satu kali ini, laba bersih Perseroan menjadi Rp 2,1 triliun atau turun 36% dibandingkan semester I-2024, dimana hal ini tidak mempengaruhi kinerja operasional Perseroan.

“Kami bangga Sampoerna dapat meningkatkan pangsa pasar dan mempertahankan kepemimpinan di industri tembakau nasional. Kami sangat mengapresiasi komitmen Pemerintah dalam menjaga iklim usaha yang kondusif, salah satunya melalui kebijakan untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2025. Kami berharap Pemerintah dapat mempertimbangkan untuk melanjutkan kebijakan ini guna mendukung tujuan pertumbuhan ekonomi, menjaga serapan tenaga kerja dan penerimaan negara, serta menjaga kelangsungan usaha para pelaku industri legal,” ujar Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi.

Dalam lima tahun terakhir, dinamika dan kinerja industri hasil tembakau masih terus menghadapi tantangan dipicu oleh kenaikan kebijakan tarif cukai signifikan ditengah menurunnya daya beli para perokok dewasa yang dimulai sejak masa pandemi COVID dan kemudian dibarengi tekanan ekonomi akibat situasi geopolitik. Kondisi ini mendorong maraknya peredaran rokok ilegal di Indonesia yang secara langsung merugikan pelaku usaha legal, sekaligus juga menurunkan potensi penerimaan negara dari sektor cukai dan pajak secara keseluruhan.

Terkait hal ini, Ivan mengatakan: "Kami sangat mengapresiasi langkah Pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang semakin intensif dan tegas dalam memberantas rokok ilegal, baik melalui edukasi maupun penindakan di lapangan, dengan didukung oleh aparat penegak hukum dan pemerintah daerah demi mengamankan penerimaan negara. Komitmen ini sangat krusial bagi kelangsungan industri hasil tembakau dan kami mendukung penuh upaya kolektif ini."

Di tengah tantangan dan tekanan yang dihadapi industri hasil tembakau, Sampoerna berkomitmen untuk terus mendukung perekonomian nasional melalui investasi berkelanjutan dengan memperkuat ekosistem industri dan kemitraan, serta mendorong ekonomi kerakyatan yang lebih luas. Hal ini mencakup penambahan 5 kemitraan dengan pengusaha lokal/koperasi daerah pada tahun 2024 menjadi total 43 mitra produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang tersebar di kabupaten/kota di pulau Jawa, melakukan kemitraan dengan 19.500 petani tembakau dan cengkih dengan jaminan pembelian, kerja sama dengan 1.700 pemasok lokal, serta berkolaborasi dengan 1,5 juta mitra ritel di seluruh Indonesia.

“Selain memperkuat kemitraan dan mendorong ekonomi kerakyatan, Sampoerna juga senantiasa berinvestasi dan berinovasi secara berkelanjutan, baik dari sisi kegiatan usaha maupun portofolio produk. Jika pada tahun 2023 lalu kami meresmikan advanced laboratorium dan pabrik produk tembakau inovatif bebas asap pertama di Asia Tenggara dengan investasi lebih dari USD 330 juta, maka tahun 2024 lalu kami juga menambah fasilitas produksi SKT di Tegal dan Blitar. Secara keseluruhan, Sampoerna menyerap lebih dari 90.000 tenaga kerja yang mayoritas bekerja di lini produksi portofolio SKT kami. Selain itu, Sampoerna juga menjadi pusat ekspor Philip Morris International (PMI) ke lebih dari 30 tujuan ekspor, baik untuk produk rokok maupun produk tembakau yang dipanaskan,” ujar Ivan.

Secara keseluruhan, kegiatan bisnis dan operasional Sampoerna turut menggerakkan perekonomian daerah dan nasional. Ke depan, Ivan optimis bahwa Pemerintah akan mempertimbangkan kebijakan untuk mendukung keberlangsungan industri hasil tembakau yang merupakan salah satu pilar kuat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional 8%. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa sinergi antara sektor swasta dan pemerintah adalah kunci untuk membangun fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan berkelanjutan.

Semester I/2025, Sampoerna Pertahankan Posisi Pemimpin Pasar dan Laba Bersih
PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna/BEI: HMSP) memantapkan posisinya sebagai pemimpin pasar industri hasil tembakau nasional (IHT) melalui strategi portofolio merek yang kuat sehingga mendukung kinerja dan keberlangsungan bisnis Perseroan.
1 / 2
Semester I/2025, Sampoerna Pertahankan Posisi Pemimpin Pasar dan Laba Bersih
Berdasarkan laporan kinerja keuangan semester I-2025, Sampoerna mencatat peningkatan pangsa pasar sebesar 0,8 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 31%. Sementara volume penjualan turun 1,5% menjadi 39,3 miliar batang, akibat dampak tren downtrading perpindahan dari produk premium ke produk yang lebih murah.
2 / 2

Penulis : Abdullah Azzam

Topik

Foto Lainnya

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Berita Terkini lainnya

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro